Namanya Nur Izzati. Cukup dua kata, namun memiliki makna yang sangat luas. “Nur” adalah bahasa Arab, yang artinya ‘cahaya’. Sedangkan “Izzati “ berarti ‘kemuliaan’. Lahir dari keluarga yang sederhana namun serba kecukupan, idealis namun agamis, dan minimalis namun harmonis pada 29 April 1993 tepatnya pada hari Kamis Pon. Anak sulung dari dua bersaudara itu menjalani pendidikan selama masa SMP di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dia melanjutkan masa SMA nya di SMA unggulan, SMA Negeri I Salatiga.
Dan kini, di usianya yang sudah menginjak 19 tahun, perempuan cantik itu melanjutkan kariernya di Politeknik Kesehatan Semarang. Mengambil jurusan kebidanan selama 6 semester, Izza (begitu ia disapa teman-temannya) mulanya tidak begitu menikmati bidang itu. Karena tekadnya adalah menjadi seorang PNS di Kementerian Keuangan. Namun, seiring berlalunya waktu, Izza kemudian mampu menikmati hari-harinya di asrama yang memenjaranya selama satu tahun pertama di kampus yang berada tidak jauh dari Tugu Muda Semarang itu.
Izza juga memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Namun, karena biayanya yang cukup mahal, dia nrimo untuk lebih mementingkan kebutuhan keluarga terutama orangtua dan adiknya. Sehingga, dia tidak ngoyo untuk mejadi luar biasa. Seperti kata ibunya : sakmadyone wae nduk.. Sederhana saja, namun memiliki kehangatan, kenyamanan dan keharmonisan hidup di masa depan.
Izza merupakan bagian dari keluarga besar yang membidangi Kementerian Agama karena keluarga eyangnya sampai anak-anaknya bergelut di bidang Kementerian Agama. Hal itulah yang membuat ia benar-benar sangat tertutup dari dunia pergaluan bebas yang akhir-akhir ini sangat membahayakan.
Seorang Izza memiliki cita-cita tinggi dan tujuan-tujuan mulia yang berusaha ia wujudkan sekuat tenaga. Izza memiliki pikiran yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, serta suka mempelajari hal-hal baru yang dapat memperluas wawasannya. Meskipun demikian, dengan kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dalam skala besar, kebanggaan serta kepandaian dapat dengan mudah menjadi kelemahannya pada suatu saat. Izza bukanlah tipe orang yang suka banyak bergaul dan tidak tertarik pada urusan orang lain. Tampaknya ia cukup puas dengan mengandalkan kemampuan pribadi untuk memahami suatu situasi dan menghindarkan diri dari pengaruh orang lain.
Izza itu kalem dan lemah dalam mengerjakan segala sesuatu pekerjaan. Tetapi semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya selalu dapat selesai pada saatnya, karena orang seperti Izza selalu mempunyai kiat tersendiri dalam mengerjakan segala sesuatu. Sistematis dan praktis, sehingga dengan santai, dia dapat merampungkan pekerjaan. Sifat kalem dalam tindak tanduknya itu, mempengaruhi juga dalam pergaulan sehingga tidak mengherankan dia juga mempunyai banyak pengagum.
Dalam pergaulan, Izza sangat menyenangkan, tetapi tidak gampang mempercayai orang lain, juga mempunyai sifat cemburu, karena ia mempunyai perasaan kuat, maka segala langkahnya walaupun lamban tetapi pasti. Walaupun tampak kalem, tetapi kalau terpancing oleh kemarahan yang tidak dapat tertahan lagi maka dia pun dapat marah sekali. Kalau sudah disakiti hatinya dan dikecewakan maka dia cepat mengambil suatu keputusan yang dratis dan tidak mau lagi berhubungan.
Kini, Izza sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang awalnya dikenal hanya melalui hubungan telepon. Seorang yang lima tahun di atas usianya. Seseorang yang sedang mencari sosok yang tepat untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Seseorang yang tidak pernah memandang kelemahan dan kekurangan Izza. Di mata seseorang itu, Izza adalah jawaban dari doa-doanya.